aku memang tidak punya nyali
entah apa yang terbesit di kepalaku, barangkali hal yang aneh yang selama ini aku alami, aku masih tidak bisa mempercayai bahwa betapapun aku berjuang keras demi diriku ini, aku masih orang yang belum punya apa-apa.
dalam kehidupanku, saja aku masih terbelenggu oleh ikatan yang semestinya tidak aku terima dan ku setujui, aku masih saja berada dalam lingkaran yang penuh dengan kepuraan, betapa aku terlihat sempurna, ya aku terlihat sempurna, namun jauh dari semua itu aku hanya orang yang mudah di remehkan, di cemooh, dan juga di anggap sombong,
barangkali tepat kiranya kata pepatah, tong kosong nyaring bunyinya, hal itu pula yang membuat aku menjadi bukan diriku sendiri, sulit memang buat ku menjadi apa yang aku inginkan, berdalih hanya sebagai suatu proses yang sedang aku jalani, aku selama delapan tahun menerima dan tak mau mengakui bahwa aku masih saja honor, tingkat rendah, yang hanya sebagai clening service,
ah, banyak dari mereka yang tak mengetahui itu semua, bukannya malu mengakui, namun karena mereka tak bertanya, serta mereka juga tak memperdulikan hal tersebut.
aku berada pada tekanan yang teramat berat, menerima bahwa aku sebagai pecundang, yang selalu kalah dalam pertempuran, tak mengerti bagaimana taktik yang harus aku jalani, semuanya cenderung menjerumuskan diriku, menganggap aku akan mencari aman saja, seolah tak ada motivasi yang ada pada diriku, aku nyaris sempurna dalam ketidak berdayaan diriku ini.
yah, dalam permainan aku selalu kalah, berusaha menangpun aku tak mampu, apalagi hanya sekedar mengalah, tentu hal ini akan mempermudah mereka yang pada posisi tak membuat beban.
aku juga dalam percintaan selalu kurang, menganggap hal yang sepele memang seple. tapi justru hal itu menentukan selanjutnya. dalam kalimat aku tak bertatak rama, juga dalam menilai aku senantiasa pada posisi yang tak pas...
aku harus berubah, berubah sempurna dan tak melakukan kesalahan lagi yang membuat aku menjadi fatal dalam langkah selanjutnya
sampai bertemu di lain waktu, kita tak bisa menyimpan rasa itu, bahwa kesedihan menghampiri kita, namun kita saling tak menunjukanya, bahwa kita tegar menerima keadaan alam akan diri kita,

