PERNAH tersiksa karena penasaran? rata-rata pasti menjawab 'pernah'. Untuk menghilangkanya, segala upaya akan dilakukan untuk mencari jawaban. Situasi seperti ini tak jarang digunakan dalam berbagai strategi komunikasi dan pemasaran. Jurus ini bisa dipasang sebagai umpan yang paling menggiurkan.
Dasyatnya efek rasa penasaran itu hingga ada sebuah ungkapan 'mati penasaran'. Artinya penasaran itu sangat berbahaya, sehingga bisa bikin binasa. Bahkan, dalam bahasa Inggris ada ungkapan serupa yakni 'curiosity kills a cat'.
Situasi seperti ini sering digunakan pemasar produk untuk menggaet pelanggan. Salah satu contoh peristiwa yang membuat penasaran warga seantero Jakarta yakni, misteri rumah hantu Pondok Indah.
Pada malam hari yang menggegerkan itu, spontan Jalan Raya Pondok Indah, baik yang ke arah Lebak Bulus maupun yang menuju Kebayoran, macet total dibuatnya. Beredar isu ada seorang tukang nasi goreng yang hilang di sebuah rumah tua tak berpenghuni di jalan Pondok Indah. Padahal, hal itu belum tentu kebenarannya.
Tak hanya kendaraan yang lalu lalang yang melewati rumah itu saja yang dibuat jadi penasaran, namun 'penonton' juga berbondong-bondong datang dari luar kota hanya untuk mengobati rasa keingintahuannya itu.
Rasa penasaran seperti itu, jika dikelola dengan baik bisa dimanfaatkan untuk mengundang pembeli. Dengan sedikit memutar otak, pembeli dapat langsung berduyun-duyun datang.
Di Jakarta banyak sekali penjaja nasi uduk. Mulai dari pedagang kelontong, dan gerai mulai dari kelas kambing sampai bintang lima.
Nah, ada sebuah warung di bilangan Jakarta Selatan yang menjual menu andalannya yakni nasi uduk. Larisnya bukan main. Padahal, jika dicicipi rasanya tak berbeda dengan restoran yang lainnya. Bahkan, si pemilik warung itu tidak menyediakan bangku yang banyak untuk pengunjung.
Uniknya, baru beberapa bulan warung itu sangat laris sekali. Usut punya usut, si pemilik warung sengaja membuat orang yang melewati warungnya itu menjadi penasaran, yakni dengan membuat suasana seolah-olah laris pengunjung.
Caranya, pada waktu awal-awal masa membuka restorannya itu, si pemilik warung mengundang kerabat dan keluarganya untuk berkunjung. Tujuannya, menarik perhatian siapa saja yang melewati depan warungnya.
Analoginya, jika restoran itu ramai pengunjung maka masakan warung itu secara tidak langsung mencermikan 'miroso' dan laris. Sehingga, warung itu menjadi perhatian orang-orang yang melintas di sekitar lokasi.
Jika masyarakat melihat restoran itu banyak pengunjungnya, maka akan menimbulkan rasa penasaran, mengundang perhatian dan pertanyaan di benak orang yang melintas.
Efek penasaran bisa dihilangkan, dengan menjajali warung nasi uduk agar rasa penasaran bisa terobati. Bahkan, menjadi tempat makan malam bersama rekan kantor untuk melepas rasa lapar, dan kepenatan bekerja.
Si pemilik juga tidak lupa memasang spanduk harga, yang cukup terjangkau. Hasilnya, restoran itu laris manis. Tentunya dengan pelayanan yang memuaskan, maka pembeli datang bagaikan kumbang menyerbu madu.
Jika disikapi dari sudut pemasaran dan komunikasi, bahwa rasa penasaran tadi ampuh dan dasyat efeknya. Pada dunia periklanan jurus ini dikenal dengan istilah 'teaser'. Itu sebabnya, pemasar sering membuat iklan berseri, yang lebih menggoda dan menggugah rasa penasaran.
Jika khalayak sudah terjerat rasa penasaran, maka mereka cenderung memfokuskan dan memperhatikan hal-hal yang berkenaan dengan objek berikutnya, yang berisi pesan sesungguhnya.
Penasaran merupakan elemen kontak yang menentukan dalam sebuah komunikasi yang berkelanjutan. Tapi sebaliknya, jika contoh restoran nasi uduk di atas dikelola dengan penasaran yang teralu heboh, malah bisa berbahaya. Karena mampu menjadi pisau yang tak terkendali. Maka berhati-hatilah, jangan sampai mati penasaran. (diolah dari berbagai sumber)