aku merasa sendiri
barangkali memang beginilah keadaan diriku yang senantiasa merasa selalu ada kekuranngan dan selalu merasa tak pernah cukup, hal ini lah yang membuat aku semakin terpuruk ketika aku dan sahabat juga teman yang lainya tak mendapatkan hal yang tak ku inginkan,
terkadang kita menganggap persahabatan adalah hal terhebat yang kita punya, sahabat mampu menempatkan diri kita pada suatu keadaan dimana kita di butuhkan, saling memberi dan menerima, toleransi dan juga empati, terkadang membuat kita di posisi yang sulit,
secaranya aku menginginkan sahabtku sebagai dirinya sendiri, tak perlu memperoleh pengaruh dari luar, percaya pada diriku, juga mampu untuk menempatkan dirinya di tengah kegalauan hati, ah aku memang egois ya, menempatkan dia sebagai orang yang harus mengerti diriku, sedang aku sama sekali tak mengerti akan dirinya, mendukung dan memberikan hal terbaik.
namun, jika kita berusaha untuk memberikan dan selalu memberikan hal yang terbaik bagi kita, tanpa kita harus menerima kebalikannya dari dirinya, aku merasa ini tidak adil. .. itulah yang terjadi pada diriku
sahabatku sendiri, selalu saja curiga pada diriku, selalu menempatkan kalimat yang ku ucapkan pada posisi menyudutkannya, kecurigaannya dan pemikirannya bahwa aku selalu membela kekasihnya,..
aku ingat peristiwa kekalahannya waktu pomnas X di banjarmasin, niat hati sih untuk memberikan suport bahwa dirinya sudah termasuk hebat, juga sudah termasuk kebanggan diriku, sedikitpun aku tak menyinggung kekalahanya, yang aku kira akan sangat menyakitinya,.. jadi sengaja saja, aku membicarakan kekasihnya yang sendiri, kelaparan, kepanasan di tempat lain,
al hasil, dia justru marah padaku, menuduh bahwa diriku selalu memikirkan kekasihnya, tak pernah memikirkannya.
aku jadi semakin salah saja, aku justru ingin membesarkan hatinya, mencari celah pemikirannya yang terpuruk, karena aku tahu, dia bakal selalu ingat akan kekalahanya,
aku juga tak bisa mengerti, kenapa justru selama ini aku yang jadi kesalahan, dia dan kekasihnya adalah temanku, sahabatku, sehingga aku tahu banyak tentang mereka,.. sebelumnya memang aku telah mengundurkan diriku untuk tidak lagi perduli pada mereka, faktanya aku harus menjauhi mereka berdua,..
aku tak mengerti kenapa mereka melarangku, meninggalkan mereka berarti membuat hambar percintaan mereka, disisi lain aku selalu berda pada ketidak nyamanan dan ketidak sukaan ku pada hubungan mereka,..]
aku berfikir, inilah ujian untuk diriku, dimana aku harus berfikir rasional, bahwa aku harus mendukung mereka,
lain halnya dengan ry kekasih rz, aku selalu menempatkan diriku untuk tidak dijadikan bahan curhatan dirinya, meski aku tahu banya rz seperti apa, aku toh tak mau menceritakan siapa dan bagaimana rz sebenarnya, aku berfikir, bukan aku yang harus menceritakan diri rz, namun waktu untuk merekalah yang akan mereka temukan, bahwa diantara mereka memiliki sesuatu yangpatut untuk di pertahankan,
ry, memang agak tertutup padaku, aku toh menyadari hal itu, karena aku memang tidak ingin ry mengetahui yang tidak di ketahui oleh rz,
-----
kemarahanku pada rz, kemaren, memang tak membuatku menjadi berubah, apalagi harus memutuskan persahabatnku yang terjalin cukup lama, namun sikapku, untuk tak menggubris dirinya, justru membuat aku menjadi semakin salah, rz, memang ada menelponku, barangkali berusaha untuk memperbaiki keadaan persahabatan kami, aku sengaja aja, untuk tak mengangkat telponnya, apalagi berbicara dengannya,
bagiku, kemarahannya justru tak beralasan, tak menempatkan posisi yang sebenarnya, atau barangkali dia tak mengerti akan ke tulusan ku untuk memberi dukungan, atas kekalahanya di pomnas...
tapi sudahlah, itu semua telah terjadi, kedepannya aku harus bisa lebih bijak dan dewasa lagi, kesempatan untuk meninggalkan persahabtan ini, cukup besar, dilain pihak aku sudah memiliki kekasih, tentunya yang ku harapkan adalah fokus dan menjalani hidupku sendiri, memang persahabatan itu perlu, namun jika di dukung oleh rasa saling pengertian,..
aku tak ingin menjadi beban mereka, sedangkan diriku juga tak menginginkan mereka membebani diriku,

