seperti air yang enggan mengalir pada tempat yang tinggi
ini merupakan suatu alasan, perubahan yang terjadi pada diriku karena proses dalam kehidupanku yang terkadang tak mampu aku hindari meski itu bukan suatu keinginan hati,
ini adalah kesekian kalinya, kuselesaikan masalah hidupku dengan diam, dengan berteman sunyinya hati, menepis keinginan ramainya mereka berceloteh latah, dan aku tak menyukainya,
aku bukan menjadi pendiam, meski aku berteman dengan diam, karena aku masih punya suara, yah suara hati nurani, suara mulut yang ingin hanya kugunakan untuk hal yang penting, meski ucapan kata terukir kalimat dan penjelasan yang sangat menyakitkan dari si pendengar.
aku masih setia dengan diam. bukan aku tak mampu mengolah kata merangkai kalimat indah, dan mempersembahkan keindahan itu kepada seseorang, bukan bukan karena itu, karena aku ingin aku diam, untuk mencerna dan memusahabah diriku, bahwa apalah suara itu, jika bukan pada tempatnya.
dan aku inin berteman dengan diam, selalu mengharap dia pun begitu pada diriku, dengan sikapnya yang anggun dengan gaunnya yang menawan, diam seolah memberikan kepuasan batinku, yang mampu menggetarkan hatiku, dengan diam, aku mampu menjalani hidup.