"aku bukan lelaki yang pantas untukmu, rina, sadarlah itu, kau begitu mempesona banyak orang, tak satupun lelaki yang menolakmu, aku harap kau sadar akan itu,
tidak dit, aku hanya menginginkanmu, menginginkan kasih sayangmu di hatiku, hanya kamu yang mampu untuk kujadikan peganganku, aku teramat mencintaimu dit, kau juga harus menyadarinya,
hah, cintamu hanya di permukaan rina, hanya ilusi yang kau anggap sempurna, kau hanya iba padaku, hanya berbelas kasih, aku menyadari itu sejak semula, jadi ku mohon rina, jauhkan cintamu padaku, karena aku tak pantas untuk dirimu,
cintailah mereka rina yang kau pilih, yang mencintaimu dengan tulus, aku hanya aku tak mampu aku menjadi yang kau harapkan..
\\\
ya, rina aku mencintaimu, teramat mencintaimu hingga aku tak dapat lagi berfikir bagaimana hidupku tanpamu, bagaimana ku lalui hari-hariku saat ku melihat dirimu bersama yang lain, bukan bersamaku, tapi aku bukan lelaki untukmu,.. ah, rina, cintaku yang tersayang
dua bulan kemudian...
adit,.. suara itu datang dari belakang punggungku, aku teramat mengenal suara itu, itu suara rina, namun deham suara di sebelahnya, membuat aku enggan untuk berpaling, karena aku yakin rina tak sendiri seperti dulu,
adit,.. rina memanggilku lagi, kini suaranya mulai terdengar keras, aku masih saja enggan untuk berpaling, berpura-pura aku asik dengan buku di depanku,.. mencoba untuk menepiskan panggilan itu, berharap jika aku tak menggubris rina, dia akan pergi meninggalkan dimana aku duduk,...
adit, suara rina kini berubah, lebih lembut dan mengandung iba terdengar di telingaku,.. namun lagi-lagi kudengar dehaman suara lelaki di sebelahnya,.. meski tangan rina kini sudah terulur di pundakku, aku masih enggan untuk berpaling, bahkan dengan hentakan ringan pundaku, tangan mungil halus yang sekilas ku lihat terlepas di pundaku,..
sesaat kemudian tak kudengar suara dan dehaman itu, dia telah pergi fikirku, rina telah kecewa yang kedua kali kepadaku, ah, lagi lagi aku sesali perbuatanku, seperti kekanakan....
belum lepas rasa penyesalan di hatiku karena perlakuanku pada rina, si pujaan hatiku, aku di kejutkan kembali dengan benturan agak keras di pundaku, sembari suara rina, agak menjerit, aditt, saura itu pilu, seperti disertai tangis, aku hanya tertunduk, mencoba untuk memfokuskan diri pada buku di depanku, dan aku masih saja kuat untuk tak berpaling.... bersuarapun tidak, ah, meski keinginanku untuk melihat wajah cantik rina setelah sekian lama ini aku tak menemuinya, rasa rindu tentu menyelinap di setiap sudut mataku,
kembali pukulan buku itu mengenai pundak ku, adit,,,, berpalinglah,.. suara itu kini mulai mengiba, berbaur dengan sedikit isakan tangis rina, namun aku kini tak mendengar dehaman suara lelaki itu, perlahan penasaranku semakin memuncak, disertai dengan geramanku, pada rina yang tak mengerti juga keinginanku,.. ah rina, mengapa kau perlakukan aku begini, aku sudah cukup tersiksa menolak cinta yang pasti membuat aku bahagia,..
agak kasar ku tepis buku yang masih di pundaku sejak rina memukulnya, sedikit kutepiskan sembari ku berdiri dan membalikan tubuhku, agak kasar, hingga kulihat rina tersudut ke belakang,.. sekilas kulihat rina yang anggun, mempesona dan makin cantik, s
seketika itu pula rina menggamit pergelangan tanganku, lalu dengan sedikit kasar menghentakkannya, dan rina menyambut tubuhku dengan pelukannya, aku tak menyadari kenekatan rina, namun aku masih tetap diam,
rina memeluku dengan erat,. menyandarkan kepalanya didada bidangku, seketika desiran berkecamuk di dadaku, membentuk detakan jantungku yang tak beraturan, aku yakin rina akan merasakan detakan itu,.. perlahan kugerakkan kepalaku, menempelkan mulutku di kepala rina, semerbak wangi kepala rina menyengat hidungku, wangi khas rina yang selama ini menggangu tidurku,..
ada apa rina,..suaraku pelan, nyaris tak terdengar, apa yang kau lakukan ini,.. ku himpun suara di tenggorokanku yang sejak tadi tercekat,.. rina tak menjawab, hanya kepalanya yang bergerak, perlahan kepala mungil itu menjauhi dadaku,
adit, mengapa kau lakukan ini padaku, apa salahku, suara itu tak kalah pelan dengan suaraku, hampir berbisik namun yang terdengar hanya isakan yang disertainya,.. pandanganku masih kedepan, tak berani aku memandang wajah ayunya, tak tahan tentunya aku dengan kesedihan yang teramat dalam di wajah itu,..
perlahan tangan rina melepaskan pelukannya, namun tangan mungil itu terulur di depanku, menyentuh kedua pipiku, membelainya hingga keleherku, sekilas ku rasakan desiran dan getaran akan perlakuan tangan rina,.. kupejamkan mataku untuk menikmati kerinduan yang terdalam pada hatiku selama ini,..
dengan kedua tangannya yang masih memegang pipiku, rina perlahan menundukan kepalaku, dan desiran kerinduan itu, semakin menggila di hatiku, menjelma menjadi getaran dasyat di dadaku, rina mengecup keningku,.. sesaat aku emosiku tak terkendali, aku tak dapat berfikir, cintaku betapa dalam pada rina,..
tangan rina perlahan merenggang, diturunkanya hingga menyentuh dadaku, menggamit dan menuntun tanganku hingga kejariku dan melepaskannya, sembari kudengar langkah rina yang menjauh padaku,..
fikiranku masih kalut, aku tak menyadari betapa rina tak mampu untuk melupakanku, bahkan cintanya yang kurasakan semakin besar, aku tak ingin membuang kesempatan ini kembali, fikirku,
kususul rina dengan segenap cintaku, kupastikan akan cintaku yang besar kepada rina,.. kudekap tubuh rina dari belakang, ku letakkan kepalaku ke leher jenjangnya, dan kubisikan, kata betapa aku mencintaimu rina, kini jangan pergi...perlahan, ku blikkan tubuh indah di depanku. dan tak kusiakan lagi, ku kecup bibir mungil itu dengan dasyatnya, kurasakan betapa nikmat sensai itu, kini ku balas cinta rina dengan tulus, karena aku mencintainya di seluruh hidupku,