aku harus menerima apa adanya dirimu, menerima bukan berarti aku harus meyakini kalau dirimu adalah yang paling berharga, sebab aku memiliki kehidupan, memang seharusnya aku menempatkan diri pada suatu kepastian bahwa kamu adalah hal terpenting bagiku,
tapi kita masih pacaran rin,kita masih sepasang kekasih yang belum mempunyai ikatan, yang menjadikan semuanya serba boleh, dan asal kamu tahu rin, aku tidak mau dijadikan batu sandaran buat kemujuran dirimu.
meski itu terpaksa rin, aku harap kamu mau hidup mandiri, hidup tidak tergantung pada orang lain, meski itu adalah kekasihmu sendiri,
kamu mesti bisa berjuang demi dirimu dan juga demi kebahagiaanmu, aku tidak bisa selamanya bersamamu, dan tidak bisa selalu membantumu, semoga kamu memahaminya rin, dan mampu memafkan aku apa adanya,
============================================================ =============
dan kamu meninggalkan aku rin, ketika kepergianku sesaat untuk masa depan kita, ketika aku harus mengejar cita-cita, demi kita berdua, ah rini, kamu telah pergi meninggalkan diriku dan aku tidak dapat mencari dirimu lagi. dan aku tidak bisa melihat bayangan dirimu.
barangkali kebencianmu membuat cinta diantara kita telah menjadi debu, terusap oleh waktu kepergianku, meski aku tidak bisa menyalahkan dirimu sepenuhnya rin, karena aku tahu kamu tidak sabar untuk menantikan diriku.
ah, tapi tahukah kau rin, betapa hati ini hancur dan sakit, bagai terhempas ke jurang dalam yang penuh dengan batu-batu terjal, yang siap mengoyak dan mencabik tubuhku,
betapa dirimu tega menghianati cinta kita, dan menerima bagas sebagai penggantiku, apakah kau tidak mengerti rin, betapa bagas itu adalah sahabat karribku sendiri, dan kami seperti saudara, yang saling memiliki ikatan bathin, layaknya seorang adik dan kaka.
==========================================================================
aku sudah memaafkan mu rin, jauh sebelum kau meminta maaf untuk penghianatanmu padaku, dan aku sudah melupakan kejadian itu rin, jauh dari apa yang kau tanyakan betapa aku menderita atas kepergian dan penghianatanmu,
tak perlulah aku memberikan bantahan, karena aku sudah muak rin, dengan masa lalu kita, kamu dan juga bagas,
namun aku sadar rin, kedatanganmu padaku, membuat hatiku terluka, luka lama yang sudah sembuh itu, kini berdarah kembali, dan semakin besar saja luka itu rin,
ketika aku harus menerima kenyataan kalau dirimu ditinggalkan oleh bagas, dengan kondisi dirimu yang hamil,