Islam Bukan Pseudo Religion
Islam Bukan Pseudo Religion
Oleh : Oky Widyanarko
· Mencari Tuhan Sesungguhnya
Sebutan “Pseudo Religion” dikenal banyak pada ilmu filsafat atau dalam bidang psikologi yang berarti agama semu. Dalam hal kehidupan religius, pengabdian sesungguhnya kepada yang serba “Maha” merupakan hakekat dari kebutuhan manusia sebagai makhluk hidup dan bukan merupakan kebutuhan Tuhan. Ketika manusia lahir maka secara fitrah ia akan mencari di mana Tuhannya yang telah menciptakannya, memberikan ia rezeki, menunjukkan jalan yang benar dsb. Jika manusia tidak bisa menemukan Tuhan sebenarnya , maka ia akan menciptakan Tuhan-Tuhan menurut versi mereka untuk dijadikan sesembahan dan menjadi pegangan hidup atau agama. Agama dapat dikatakan baik dan tidak bias dalam kesemuan belaka (pseudo religion) jika memenuhi 5 aspek antara lain Iman, syariah (atau membawa hukum), Ikhsan (akhlak), Amal (aplikasi dari syariah) dan ilmu ( Haryanto, Sentot, 2005 : 6). Islam turun 14 abad yang lalu untuk memenuhi semua aspek tersebut dan menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi manusia agar kembali kepada fitrahnya bahwa manusia sejak lahir ke dunia ini merupakan makhluk yang lemah dan akan tergantung kepada sesuatu yang “Maha” yaitu Allah SWT sebagai Tuhannya,
“ Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (AL A'RAAF (Tempat tertinggi) ayat 172)
· Ibadah
Islam diturunkan bukan hanya sebagai ideologis yang hanya diimani atau dipercaya, tetapi Islam juga menyampaikan hukum-hukum (syariah) yang harus ditaati oleh umatnya. Seperti penegasan Allah,
dan Hanya Allah sebagai penguasa tunggal makhluk dan alam semesta ini,“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk beribadah “ ( QS. Adz-Dzariyat (51) : 56 )
“ Dan tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 163).
Syariah Islam mengatur manusia agar melaksanakan hukum atau ketetapan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan. Hukum-hukum itu antara lain berisi larangan dan perintah termasuk didalamnya bagaimana tata cara beribadah kepada Allah, hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya.
· Amal sebagai aplikasi dari syariah
Agama yang semu kadang tidak mengenal amalan, hukum hanya sebagai pajangan saja atau hukum dapat dipermainkan yang akhirnya mereka langgar sendiri. Islam memperbaiki semua itu karena ibadah tanpa amalan sepertinya hanya omong kosong belaka,
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim.” (Ali-Imran (Keluarga Imran) ayat 57)
· Ilmu menyertai amal
Nabi Muhammad SAW pernah mewasiatkan kepada kita seperti dalam sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari-Muslim,
“ Barang siapa beramal sesuatu perbuatan dan tidak didasarkan atas perintah kami (rasul), maka amalan itu tertolak” (HR. Bukhari Muslim).
Sebelum kita mengaplikasikan ibadah yang telah ditentukan hendaknya manusia dituntut untuk belajar dari syariah atau hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah melalui rasulnya,
“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya “ (QS. Al-Israa : 36)
· Menjadi Ikhsan (akhlak yang baik) adalah tujuan Akhir
Setelah beriman,adanya hukum dan aturan yang jelas, kemudian diaplikasikan dengan amalan-amalan dan ilmu maka tujuan agama yang sebenarnya adalah menjadikan pemeluknya berakhlak yang baik dan terpuji, seperti Allah telah memuji agama ini,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali 'Imran (Keluarga 'Imran) ayat 110)
Oky Widyanarko
Pustakawan Universitas Surabaya
